Category: Anak

Ketakutannya adalah KEKUATANNYA

Tangerang, 31 Januari 2016

Boleh ya cerita lagi tentang anak saya, Marissa 🙂
Akhir Desember lalu, Marissa mengikuti lomba renang antar club renang se-Jakarta. Awalnya sih, saya ragu, apakah dia bisa? Tapi pelatihnya, Mr. Arif, yakin kalau Marissa mampu mengikuti pertandingan. Tidak ditargetkan menang sih, cuma untuk melatih keberaniannya aja…
Keberanian? Emangnya Marissa penakut?
Ya! Bener bangettt temen-temen…
Marissa-ku ini, anaknya minderan, dan penakut.
Yukk mari kilas balik cerita awal Marissa, masuk TK-B sekaligus pertama kalinya sekolah di Indonesia, tapi bukan pertama kalinya bergaul yaa…karena dia udah ikut les balet selama di Singapura.
Awal masuk sekolah aja, diawali dengan menangis kenceng tiap pagi, karena gak mau saya tinggal. Dan berlangsung selama 2 minggu, sampe saya khawatir, “ada apakah dengan anakku? kenapa perilakunya seperti ini..?”
Mulailah saya searching psikolog anak…saya nyaris menelpon salah satu psikolog untuk membuat janji, sampe akhirnya saya teringat, di sekolah Marissa ini ada psikolog.
Lalu saya konsultasi dengan team psikolog di sekolahnya, dann..Alhamdulillah Marissa banyak sekali terbantu di Sekolah High Scope Indonesia Bintaro ini 🙂
Dengan sabar, psikolognya menenangkan saya, “ibu mungkin akan mengalami fase dari Marissa yang makin lama makin kencang menangisnya. Ibu harus tahan ya bu, jangan sampe ibu menyerah lalu mengajaknya pulang ke rumah. Karena nanti dia akan sulit lagi diajak ke sekolah. Ini mungkin fasenya Marissa, takut berpisah dengan ibu. Karena selama ini selalu bersama Ibu. Mungkin juga ditambah dengan situasi perpindahan ke Indonesia. Dia-nya pun selama ini bermain terus, mulai agak bingung, dengan adanya tugas-tugas sekolah yang harus dia kerjakan…”
Dan yaa..memang benar terjadi, Marissa pun makin kencaangg sekali nangisnya…namun dengan hati tersayat, saya relakan dia harus tetap ikuti aturan: MASUK SEKOLAH dan PERCAYA dengan pihak SEKOLAH 🙂
Gak cuma di sekolah aja sih, di tempat balet-nya pun dia menangis. Dia merasa gak bisa ikuti gerakan baletnya.
Di TPA pun, dia menangis..dia merasa gak bisa ikuti pelajarannya…
Ah yaa…sampe sebal saya! Disana sini dia menangis! Bikin khawatir aja, “ada apa dengan anak ini?”
Kemudiann…
Saya coba ikuti saran dari para guru kelasnya dan psikolog sekolahnya 🙂
Dimulai dari, jemput terlambat! supaya Marissa punya banyak waktu bermain dengan teman-temannya…
Lalu disibukkan Marissa dengan extended enrichment (eskul). Saya pilihkan berenang, karena dia paling ngeyel kalau saya ajarin berenang :p
Saat latihan balet pun, saya tungguin dia, meski harus minta ijin untuk masuk dalam ruangan (karena sebenarnya orang tua gak diijinkan masuk dalam ruangan), dan saya buatkan video-nya. Sampe rumah, saya putar kembali, dan saya menangkis semua ke-minderan dia: “Marissa bisa! tuh liat di video ini, Marissa bisa kok ikuti gerakannya..”
Mulailah saya membantu Marissa latihan balet di rumah, dengan memutar video dan mengingat pesan-pesan pelatihnya, Kak Farah.

Alhamdulillah wa syukurillah…Marissa di bulan ketiga sekolah, makin terlihat peningkatannya. Di rapot tengah semester, yah kami gak bisa harapkan banyak. Dia semangat pergi sekolah, mengerjakan tugas, bermain dan bersenang-senang dengan teman-temannya pun, kami sebagai orang tuanya, sudah sangat puas.
Jadilah kami menatap rapot, yang memang gak ada sistem rangking disekolah ini, dengan hati puas.
Ya, kami memilih sekolah ini, karena gak ada sistem rangking. Sejak dahulu, saya gak pernah setuju dengan sistem rangking. Belum tentu yang rangking 1 selalu pintar, belum tentu yang rangking 1 akan terjamin hidupnya di masa depan, belum tentu yang rangking paling terakhir adalah bodoh. Sudah banyak pembuktian dari teman-teman saya, mereka yang sukses dalam bisnis atau karier, adalah mereka yang rangkingnya justru nomor 1 dari urutan terakhir! hehehehehe…

Di bulan keempat sekolah, Marissa berubah. Yang dulunya takut kalau saya tinggal, sekarang dia berkata, “Ma, Marissa gak usah diantar ke kelas, Marissa di drop aja. Mama gak usah turun dari mobil..”
Saya tanya, “kenapa emangnya?”
Dia jawab, “Marissa pengen kayak temen-temen yang lain. Marissa kan udah gede..”
Alhamdulillah Ya Alloh, dia kok berubah jadi lebih dewasa yaaa…
Saya yang jadinya merasa agak tersisihkan, “lho dia gak butuh gue lagi..?” (alaaahh ini si emak, anak nangis bingung, anak mandiri bingung pula…wakakkaka)

Lalu tibalah di akhir semester, kami menerima kembali rapot Marissa dan review dari guru-gurunya. Alhamdulillah, Marissa menunjukkan peningkatan yang signifikan, meski memang, rasa takut dan mindernya itu masih mendominasi. Terutama dalam pelajaran olahraga, meski dalam pelajaran senam, dia sangat mampu. Tapi kalau disuruh lari, atau main bola, semua kegiatan yang diluar ruangan, pasti dia mengeluh, “panas mister…” lalu mencari tempat berteduh dan duduk…
“Ya sudahlah gak apa-apalah, setidaknya ada perubahan signifikan”, begitulah pikir saya dan suami. Sedikit-sedikit dia pasti berubah ke arah yang lebih baik 🙂

6 bulan di semester kedua berjalan, Alhamdulillah Marissa makin menunjukkan perkembangan yang lebih dan lebih baik lagi. Dia mulai merasa percaya diri dengan terpilih menjadi Leader di kelasnya. Yaaa memang sekolahnya memberikan kesempatan tiap siswa untuk menjadi Leader, secara bergantian. Konsep pendidikannya, memang untuk mencetak pemimpin, yaa mirip dengan bisnis di Oriflame saya yaaa…heehehhee…

Tapi kok ya berenangnya itu gak ada kemajuan signifikan yaa?
Karena tiap kali saya nungguin Marissa eskul renang dan tiap kali saya perhatikan, gak ada kemajuan signifikan, maka saya masukkan dia ke club renang dekat rumah, atas rekomendasi dari sahabat dan downline saya, Karina.
Lalu mulailah Marissa di Maret 2015, ikuti les berenang di NNC – NO Name Club.

Tunggu punya tunggu…hari demi hari saya temenin Marissa berenang, kok ya gak maju-maju ini anak…hahahhaha..
Saya agak heran…
Kenapa di sekolah, dan balet, Marissa bisa menunjukkan kemajuan signifikan, tapi di renang tidak?
Masa’ udah 4 bulan les berenang, masih segitu-gitu aja? Gaya bebas pun belum beneran bisa, tiap kali latihan, pake banyak alasan: capek, ngantuk. Tapi kalau diajak bolos renang, diganti jalan ke mall malah senang…apa pulaakk ini polahnya? wakkakakak…

Lalu saya tambahkan porsi latihan berenangnya menjadi seminggu 2x.
Ehh…Marissa minta les piano pula!
Alamakkkkkjyaannn…”kau belum selesai belajar berenang, sudah minta les piano pula?” (gaya batak keluar dehhh…)
“Lah kuasai dulu 1 macam gaya renang, tunjukkan kamu bisa berenang dengan baik dan benar, baru belajar piano..”
Lalu mulailah ada perubahan di Marissa.
Dia sudah mulai bisa gaya bebas tanpa board dengan cepat…baiklahhh…

Tibalah rapot akhir dari grade B alias TK-B.
Alhamdulillah Marissa banyak sekali menunjukkan perkembangan.
Yang tadinya, penilaian dia berupa “NY” (Not Yet) menjadi B dan C (bukan skala angka yaaa) — dengan review guru-gurunya yang sangat positif mendukung kemajuan dirinya.

Dan September 2015 dimulai dengan Marissa di Grade 1, alias SD kelas 1.
Seminggu pertama masuk, Marissa membolos, karena kami masih di Thailand.
Masuk minggu kedua, saya deg-degan, akankah terulang lagi, drama tangis seperti dahulu? Apalagi Marissa ketemu lagi dengan teman-teman barunya, dan dia pun telat masuk di tahun ajaran baru. Mungkinkah banyak ketinggalan pelajaran?
Ohh..Alhamdulillah tidakkk! Senangnyaaaa…..
Dia tetap happy, berbaur dengan teman-teman baru, dan gak ketinggalan pelajaran.

Secara akademis, tidak ada yang kami khawatirkan. Hanya saja, dia mulai merengek lagi dengan “les piano”. Berarti sudah 2x ini dia merengek meminta les piano.
Yaaa les piano tidak murah bukan? apalagi beli piano-nya 🙂
Karena itu, saya dan suami tidak gegabah mengiyakan permintaan dia.
Saya ingetin lagi tentang tantangan yang harus dia jalani, kalau mau les piano:
“kuasai dulu 1 macam gaya renang, tunjukkan kamu bisa berenang dengan baik dan benar, baru belajar piano..”
Bukan bermaksud menghambat…
Tapi menurut saya, kalo belajar sesuatu itu harus fokus, tekun, konsisten, dan berkomitmen. Gak bisa belajar sedikit, lalu ditinggal di tengah-tengah. Mana bisa berhasil?
Belajar renang belum bener-bener kuasai tekniknya, tau-tau udah berhenti dan pindah les piano? heloowww…? mana bisa begitu…?
Sebagai orang tua, justru kita harus bisa sayang sekaligus tegas dengan anak.
Kalau mau belajar A, belajarlah dengan sungguh-sungguh, baru belajar B.
Kalau mau belajar piano, selesaikan dulu les berenang ini. Kan les berenangnya udah terjadwal duluan.
Jadi selesaikan les berenangnya, sampe bener-bener kuasai teknik mengapung dan satu macam gaya untuk dikuasai. Gak perlu jadi atlet renang, tapi berenanglah dengan baik dan benar. Setidaknya, kalau ada perjalanan kesana kemari, dan ada apa-apa, Marissa bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Bukankan bumi kita terdiri 70% lautan? artinya, AIR DIMANA-MANA 🙂

Kemudian, sampai dimana, pelatih renangnya Marissa, Mr. Arif minta ijin mengikutkan Marissa lomba renang, dan beliau yakin dengan kemampuan Marissa.
Saya pun syaratkan ke Marissa, “nak ikutlah lomba ini, capai garis finish, dan mama papa akan les-kan kamu piano..”

Marissa bertanya, “lomba itu apa ma?”
Hahahahhahah…yaaahh atuhlahhh..namanya juga anak masih 6,5 tahun…
Saya jelaskan lomba itu, berenang saat peluit dibunyikan, dan terus berenang sampe capai pinggir kolam seberang. Nanti yang duluan sampe, akan jadi pemenang. Pemenang itu dapat hadiah, dapat piala…”
Marissa bertanya, “kalau Marissa gak menang?”
Saya jawab, “enggak apa-apa. Marissa capai garis finish pun sudah menang..”
Dia tampak ragu. Lalu buru-buru saya tambahkan, “Mama pun belum tentu bisa kok ikut lomba. Marissa kalau disuruh ikut lomba, artinya Marissa bisa. Marissa mampu. Coba Marissa liat, apa seluruh teman sekolahnya ikut lomba berenang? kan enggak…
Di kelas, siapa aja yang ikut? kan cuma Marissa. Berarti, Marissa BISA!
Lomba juga loncatnya cuma sekali Marissa, gak bolak balik kayak latihan sekarang ini.

Pelan-pelan dia pun mulai tersenyum, “Marissa mau ikut lomba. Itu loncatnya sekali ya Ma?” (sambil acungkan telunjuknya) gak bolak balik kan?”
Enggak sayang…cuma sekali aja…
“Iya Ma, Marissa mau ikut lomba! Nanti sesudah lomba, Marissa mau makan di fish & chips yaa…” (maksudnya Fish & Co.) hahahhahaha todongannya!

Mulailah Marissa latihan renang seminggu 2-3x. Kemampuannya pun lebih terasah.
Ternyata benar apa kata pelatihnya, Marissa sangat mampu berenang. Bahkan dia mengalahkan teman-teman cowok seusianya 🙂
Untuk ukuran kolam 50 meter, dia berhasil tempuh dalam waktu 44 detik. Bagi saya yang amatiran, cuma bisa berenang sekedarnya, ya itu sangat bagus, Alhamdulillah 🙂
Saya pun belum tentu bisa secepat itu, hehehehhe….apalagi dia masih 6,5 tahun dari keluarga bukan atlet pula…xixixiixixix..

Akhirnya sampai di hari pertandingan renang. Yaahh seperti yang dikhawatirkan sebelumnya, Marissa tau-tau nangis, merasa gak bisa berenang, takut tenggelam! Alamakkjyaann…wong kolam renangnya aja 1/4 kali-nya kolam renang tempatnya latihan. Yaaahh biasalah dengan nangis koar-koarnya ituuu…dan saya mendiamkannya sampe dia tenang sendiri.
Pelan-pelan saya bisikkan, “Marissa, tuh liat yang lebih kecil daripada Marissa. Pada pake board, jalannya pun lama. Tapi mereka tetap terus berenang sampe finish. Tidak apa-apa bila tidak menang, yang penting, capai FINISH”.
Kalau Marissa gak mau ikut lomba, ayok, kita pulang sekarang.
Dia pun menggeleng, “enggak ma, Marissa mau ikut lomba..”

Naahh yukk disimak yaa rekaman saya pas Marissa lomba. Ternyata, lawan-lawannya Marissa adalah anak-anak di usia 7-8 tahun. Marissa satu-satunya anak yang berusia 6,5 tahun dan baru kali ini ikutan lomba 🙂

Alhamdulilah, dalam perlombaan ini, Marissa berhasil mengekor Annisa, kakak kelasnya yang juara renang di berbagai lomba. Meski Marissa menjadi orang yang kedua mencapai FINISH, setelah Annisa, bagi saya sangatlah membanggakan, Alhamdulillah…
Karena sejak saya lihat daftar peserta, menemukan nama Annisa sang juara renang aja, udah bikin saya ngeper…”waah Marissa harus berlomba dengan Annisa yang usianya lebih tua dan jam terbangnya tinggi plus juara renang..”
Jadi, saat Marissa berhasil mengekor Annisa pun, saya sudah sangat bahagia, temen-temen 🙂
Selesai berenang, kami pun segera berkemas pulang, dan ke mall tentu saja! karena sudah janji kan, mencapai garis finish, lanjut ke Fish & Co.! wakakkaakaak….
Kami gak menunggu pengumuman pemenang. Bagi saya, Marissa sudah menang melawan ketakutannya, dan itu sudah cukup 🙂
Daan malamnya pun dikabari pelatihnya, Marissa berada di urutan waktu ke-9 dari total 15 peserta, Alhamdulillah wa syukurillah 🙂

Akhir Desember pun ditutup dengan pembagian rapot Marissa.
Alangkah kagetnyaaa, melihat rapotnya di depan guru-guru kelasnya!
Pelan-pelan saya bertanya, “Miss…benarkah ini nilainya Marissa?”
Ya Alloh, beneran ini, saya membaca deretan huruf A di tiap subyek pelajarannya?
Cuma ada nilai B di olahraga, itu pun kolaborasi dalam olahraga mendapat nilai A.
Gurunya pun bertanya balik sambil tersenyum, “Ibu kok meragukan kemampuan Marissa?”
Saya menjawab, “karena biasanya tiap kali saya tanya Marissa, belajar apa tadi di kelas?” dia menjawab, “Lupaa ma! Tadi Marissa itu main games, trus makan, trus ngantuk bentar tapi boleh bobo ama Miss..” (laahh piyee iki sekolah opo toohh…? wakkakakaka)

Seperti biasa, selesai diskusi dengan guru kelasnya, kami pun lanjut menemui guru Bahasa Inggris, Art, Musik, Agama, dan Olahraga. Kami temui satu per satu untuk mendapat review gurunya.
Alhamdulillah dari tiap review gurunya, menjelaskan tentang perubahan signifikan pada Marissa…Ya Alloh nikmatMu mana lagi yang aku dustakan?
Dan tibalah menemui giliran review dengan guru olahraganya. Lalu diceritakan tentang Marissa yang terampil berenang, sudah gak menyek-menyek lagi kalo diajak olahraga lari, bermain bola atau basket. Sudah gak rewel lagi kalo kepanasan, Alhamdulillahh….

Yahh dengan segala hasil kerja kerasnya Marissa selama ini, tampaknya gak ada lagi alasan menunda les piano…hehehhe…
Tampaknya, segala keminderan dan ketakutannya dia, terkikis dengan kemampuan berenangnya. Dia memang awalnya takut berenang karena takut tenggelam. Setelah dia kuasai rasa takutnya, dibalas dengan kemahiran berenang, ternyata, menumbuhkan kemampuan-kemampuan dia selama ini yang terkubur.

Cerita ini saya tulis, bukan bermaksud riya’ atau menyombongkan anak saya,  ya temen-temen…na’udzubillah…
Hanya sekedar berbagi aja, ternyata ketakutan, keminderan, ketidak percayaan diri itu mengubur kemampuan kita, temen-temen 🙂 Saya belajar banyak dari pengalaman anak saya ini 🙂
Mungkin gak semua orang tua beruntung, yang memiliki anak, gak perlu dipoles sana sini, sudah berprestasi ini itu tanpa banyak usaha, berbeda dengan pengalaman saya ini 🙂
Atau mungkin pengalaman saya ini, tidak ada apa-apanya dengan pengalaman temen-temen yang mungkin lebih luar biasa 🙂
Tapi apapun kondisinya, pastilah Alloh SWT berikan yang terbaik.
Buat temen-temen yang dimana saja, yang mungkin juga lagi berjuang memunculkan kemampuan terbaik anaknya, yukk jangan menyerah ya, moms and dads…
Keep fighting, tetep berjuang demi anak-anak kita!
#PuteriMiranti

 

Saya, belajar dari anak saya…

Hari ini saya belajar dari anak saya, yang masih umur 5 tahun ini 
Belajar itu GAK PAKE MALU dan KONSISTEN 
Anak saya suka banget dengan lagu Let it Go soundtrack Frozen, jadi dia menonton youtube dan dengerin lagunya berkali-kali. Sering dia ucapkan kalimat yang salah, saya betulin, eh masih salah lagi, saya betulin lagi, dan salah lagi, sampe saya ngakak ketawa terpingkal-pingkal….hehehhehehe...
Tapii yaa namanya anak-anak, kenapa mereka cepat pintar? Karena gak takut salah, dan kalo pun salah gak pake malu. Kalo lagi suka suatu hal, mereka terus nguprek hal itu sampe mahir. Sama seperti lagu ini, anak saya bolak balik dengerin, ikuti kalimatnya padahal dia belum bisa baca 
Hanya modalkan pendengaran dan pengucapan. Bolak balik salah, bolak balik diketawain mamanya, ehhh…akhirnya bisa juga dia 
Kalo orang dewasa? sekali salah, langsung malu…dua kali salah, langsung mandek gak mau coba lagi…
Yaaa itu bedanya, kenapa anak kecil cepet pintar  
Gak pake malu dan konsisten pelajari satu hal sampe mahir, persis seperti mereka dulu saat bayi belajar duduk – merangkak – berdiri – berjalan 🙂

Saat pertama kali saya dan suami, memutuskan anak kami dimasukkan ke kelas balet di Singapura, yang saya khawatirkan adalah “bahasa Inggris”.
Karena kami terbiasa bahasa Indonesia, ketika anak kami harus beradaptasi di kelas baletnya yang tentu saja bahasa Inggris nyerocos, maka anak kami ada menit-menit bengong, diperintahkan gurunya dia hanya bisa diam tidak mengerti  dan akhirnya saya jelaskan ke gurunya, anak kami belum fasih bahasa Inggris dan kewajiban saya untuk melatihnya 
Alhamdulillah gurunya mengerti, dan anak kami pun selalu dibiasakan bahasa Inggris di rumah. Awalnya, dia mengalami fase “mengerti” namun “tidak berani aktif bertanya”. Masih dengan rasa khawatir saya bahwa dia harus segera bisa komunikasi dengan teman-temannya, jadilah saya tanamkan 7Y 
Kadang kita merasa gak sabar, ingin segera menguasai satu bidang dengan cepat, tapi lupa dengan keyakinan, lupa dengan konsistensi, lupa dengan komitmen. 
Yakin bisa kuasai bahasa inggris..
Konsisten berbahasa inggris…
Komitmen melatih bahasa inggris..
Dimulai dari nonton acara TV, video, lagu-lagu, dan punya lingkungan yang mengharuskan dirinya berbahasa inggris. Alhamdulillah pake jurus 7Y digabung dengan konsistensi, komitmen, gak pake kursus, dan meski emaknya gak pinter, tapi anak kecil ini bisa juga 
Oh yaaa gak lupa juga berikan apresiasi, tepuk tangan yang meriah dan pelukan hangat tiap kali dia berhasil berkalimat yang benar 

Jadiii… buat yang gak tau gimana caranya berbisnis Oriflame, sudah pasti harus belajar dan praktekkan ilmunya secara fokus, yakin, konsisten dan berkomitmen. Kalo salah, ulangi lagi. Kalo gagal, ulangi lagi. Gak ada batasan mau ulangi berapa kali untuk jadi mahir, karena fokusnya HARUS MAHIR bukan berapa kali untuk menjadi mahir :)))

Puteri Miranti Ningrum
Qualifying Senior Gold Director Oriflame
http://www.facebook.com/puteri.miranti

Image
Belajar Balet sejak 4,5 tahun

Let it go…let it go by Marissa

Let it go…let it go…

Movie soundtrack Frozen dinyanyikan berkali-kali oleh anak saya yang masih berusia 5 tahun, hehehee…
Gak pernah khusus diajarin bahasa Inggris, belum saya ajarin baca, belum saya paksakan menulis, biarlah dia menikmati Golden Moment-nya tanpa dipaksakan 🙂
Alhamdulillah…saya bisa menyaksikan keriangannya setiap menitnya 🙂
Nyanyi-nya mau bener apa enggak, urusan belakangan, yang penting PERCAYA DIRI buat mementaskan diri, hehehehe….

 

Impian saya pernah berubah haluan, gak selalu konsisten…

Sejak saya kecil, tiap kali liburan ke Jakarta, saya selalu menyukai pemandangannya yang keren. Sesuai dengan megapolitannya, ya berdirilah gedung-gedung bertingkat dengan desain bangunan yang keren, modern, jauh berbeda dengan pemandangan Bandung di tahun 80-an dan 90-an 🙂

Apalagi dengan film Warkop yang menyuguhkan Jakarta nan megah, waah…sudah kagum sangat dehh dengan Jakarta 🙂 Maklum terbiasa nonton film Warkop sejak kecil…ahahhahah so 80-s 😀
Salah satu impian saya di saat itu adalah tinggal di Jakarta, dan dekat dengan keluarga besar saya yang rata-rata tinggal di Jakarta. Apalagi saya anak tunggal dengan dinas bapak saya kala itu, di Jakarta, jadilah saya bolak-balik dalam sebulan menempuh perjalanan Jakarta-Bandung saat masih SMP.

Lulus kuliah, saya pun memberanikan diri bekerja di Jakarta. Bermodal dengan niat sebagai freelancer saja, alias magang kerja cuma 3 bulan untuk cari pengalaman, ternyata salah seorang pimpinan kantor menawarkan saya bekerja sebagai permanent employee. Gak pake banyak pertimbangan,  saya menelepon ibu saya di Bandung, meminta ijin untuk menerima tawaran ini (tahun 2002).

Yaaa…maklum aja, saya kan berangkat ke Jakarta dengan niat hanya magang 3 bulan. Pas sampe di kantornya, dan ditawari jadi permanent employee, kaget campur senang, tapi harus minta ijin ibu saya yang tinggal sendirian di Bandung kan…:)

Alhamdulillah, dengan restu ibu saya, mulailah saya bekerja di Jakarta.  Gaji gak seberapa, tapi saya terima dengan ikhlas. Tujuan saya kan mencari pengalaman dan bisa membantu mencukupi hidup saya dan ibu saya.

Sambil bekerja, sedikit demi sedikit saya sisihkan untuk keperluan kuliah S-2.  Kalo dulu saya gagal masuk ITB, kali ini saya harus mengejar lulus masuk Universitas Indonesia. Ngapain kuliah S-2? Supaya karier saya lebih baik, dan saya bisa masuk kerja di kantor-kantor yang gedungnya megah-megah di sepanjang Sudirman, Thamrin dan Kuningan, hehehehehehehe….

Saat itu bagi saya, “iihh hebat banget yaa mereka yang bisa kerja di gedung-gedung menjulang itu! Pasti gajinya gede!”

Continue reading “Impian saya pernah berubah haluan, gak selalu konsisten…”

Entah itu Balet, Tari Bali, atau Oriflame, kalau dikerjakan setengah-setengah ya gak ada hasilnya :)

Sebenernya, Marissa sudah ingin sekolah balet sejak kami di Jakarta, dari enam bulan yang lalu.

Tapi saya meragukan keinginan anak kecil, yang selalu berubah-ubah 🙂

Maklum, saya terbiasa mempertahankan satu hobi untuk ditekuni hingga mahir. Saya tidak bisa bergonta ganti hobi atau aktivitas dengan alasan “bosan”, hehehee….karena itu tari Bali dan musik saya tekuni sejak usia 9 tahun hingga Alhamdulillah hari ini, saya mencapai usia 34 tahun :))

 Melihat tiap hari Marissa selalu ikuti gerakan balet dari TV dan ipad, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba menjawab keraguan saya. Berbekal pertimbangan dengan suami saya yang sejak awal ingin masukkan Marissa balet, akhirnya saya searching di google, tentang sekolah balet di Singapura ini.

Continue reading “Entah itu Balet, Tari Bali, atau Oriflame, kalau dikerjakan setengah-setengah ya gak ada hasilnya :)”